Tepat pada hari selasa, 10 Desember 2013 merupakan
dibukanya pagelaran Hari Nusantara (HARNUS) ke – 13 di kota Palu dan Donggala. Sejak
tahun 1999 Indonesia mencanangkan Hari Nusantara. HARNUS bertujuan agar
Indonesia mampu menunjukkan kekuatan baharinya disetiap kota yang menjadi tuan
rumah perhelatan bahari ini.
Sejarah dari munculnya peringatan HARNUS dimulai pada
Pemerintahan KH. Abdurahman Wahid dengan menjadikan hari dimana Deklarasi
Djuanda, pada 13 Desember 1957 sebagai tonggak peringatan Hari Nusantara.
Deklarasi yang dicetuskan oleh Perdana Menteri Indoenesia, Djuanda Kartawidjaja
itu menegaskan kepada dunia, bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar,
di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itulah tanggal 13 Desember dijadikan
Hari Nusantara.
Deklarasi Djuanda itu menyatakan tiga hal. Pertama,
bahwa Indonesia menyatakan diri sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak
tersendiri. Kedua, bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah
merupakan satu kesatuan. Ketiga, ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi,
dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.
Tentunya
dalam setiap perhelatan yang diadakan pastilah wajah sebuah kota akan dipole
sedemikian bagusnya agar supaya para tamu yang dari dari berbagai tempat
senantianya meresa nyaman berada di kota tersebut. Pun demikian dengan kota
Palu dan Donggala, khusus kota Palu *soalnya sy dari kota Palu sihh, hahahaha
:D. Tentunya kota inipun berbenah mulai dari sisi keamanan sampai kebersihan
mulai diperhatikan, pasukan the yellow
army (petugas kebersihan pengangkut sampah :D :D :D ) tidak ingin kalah
sigap dengan para tentara dan polisi yang bertugas melakukan tugas pengamanan.
Sudut-sudut pusat kota yang menjadi titik kegiatan mulai dibenahi. Jalan-jalan
diaspal kembali, taman-taman mulai dirapikan, garis pembatas jalan berikut
dengan jalannya kembali dicat agar tampaklah garis putihnya sebagai petunjuk
jalan.
Jemabatan
4 atau jembatan kuning yang menjadi jembatan paling megah di kota Palu pun
tidak luput dari perhatian, jembatan itu mulai dicat dan diaspal kembali karena
sebelumnya jalan beraspal dijembatan pada bopeng
(baca: lubang). Pun demikian dengan pantai yang selalu terjaga
kebersihannya sepanjang hari, alhasil pantaipun tampak begitu menyejukkan dalam
pandangan mata berikut dengan taman yang berada disekitar jembatan dan pantai
talise.
Banyak
rangkaian kegiatan yang akan diadakan seperti pawai budaya nusantara,
seminar-seminar, expo, dan berbagai rangkaian acara yang tentunya bertujuan bagaimana
mengenalkan kekayaan bahari Indonesia pada umumnya dan kota Palu dan Donggala
pada khususnya. Hendaknya setelah kegiatan ini kita dapat menjaga apa-apa yang
telah dibenahi untuk mendukung suksesnya HARNUS ini. Karena melihat dari
berbagai kegiatan yang telah berlangsung di kota Palu aset-aset yang pernah
dijadikan pendukung kegiatan dibiarkan begitu saja. Semisal lokasi tempat
Musabaqah Tilawatil Quran, bundaran yang dulunya berhiaskan lampu warna-warni
kita tak berwarna lagi bahkan tidak menyala, menyala kembali hanya ketika
digunakan kembali sewaktu kegiatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS). Lampu
jalan diseputarnyapun kadang dibiarkan mati gelap gulita tanpa penerangan,
begitupula dengan lokasi tempat kegiatan terkesan angker karena kurangnya
penerangan di malam hari dan pagi harinya seperti tak terawat karena banyaknya
rumput liar yang dibiarkan hidup.
Semoga
pemerintah dan kita sebagai masyarakat dapat mnejaga aset-aset ini untuk
kepentingan kita bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar