Rabu, 27 November 2013

24:00



24, usia ini adalah usia di mana pertanyaan yang selalu ditanyakan orang lain adalah “kapan nikah?”. Pertanyaan ini muncul ketika pertanyaan “kapan sarjana?” dan “kerja di mana sekarang?”. Pernikahan merupakan hal yang wajib bagi setiap muslim karena dengan begitu sempurnalah agama mereka dan selebihnya adalah meningkatkan ketakwaan terhadap Allah.

Seringkali jika pertanyaan ini muncul, jawaban dari kita adalah “doakan saja semoga cepat” atau “doakan saja semoga dimudahkan”. Memang hal seperti ini memang bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan, karena banyak teman kita bahkan keluarga kita menempyh jalan yang namanya pacaran untuk sebelum melangkah kejenjang pernikahan.

Sebuah kisah menarik tentang persahabatan yang sepertinya kurang lebih sudah hampir 10 (baca: sepuluh) tahunan persahabatan diikatkan kepada tiap hati mereka. Dalam kurun waktu seperti itu tentunya banyak yang sudah terjadi. Banyak pelajaran dapat diambil mereka baimitu saling mendukung dalam meraih cita dan juga ialah mereka tidak pengen pacaran ketika ingin menikah dan mereka pun saling mendukung satu sama lain itu hal tersebut. Sekalipun mereka bukan dalam lingkaran tarbiyah, maksudnya ialah mempunyai tempat pengajian atau kelompok keagamaan bimbingan islam, pemahaman mereka mengenai tidak pacaran sebelum nikah sangat baik.

Seiring berjalannya waktu pertanyaanpun menghinggapi yakni “kapan nikah?”. Yahh tentu saja jawaban yang muncul “doakan saja semoga cepat” atau “doakan saja semoga dimudahkan”. Memang menjawab pertanyaan ini memang sulit karena jika belum ada yang dating dan jika pria memang tidak berani menyatakan, tentunya bukan sebuah kesalahan jika harus bersabar dalam kemuliaan. Dalam sebuah obrolan bersama teman-teman muncul pertanyaan seperti ini lagi kepada yang lain, dan yang lainpun menjawab dengan nada agak rendah “mau diapakan jika memang belum ada”.

Menyelami perasaan seseorang tidak seperti mengeyelam kedasar samudra yang dengan mudah bisa kita ukur dan capat meskipun paling dasar sekalipun akan tetapi dalamnya perasaan seseorang siapa yang tau kecuali Allah.

Berbagai alasan akan dikeluarkan ketika kenapa orang belum menikah, tapi tentunya setiap manusia pasti membutuhkan seorang pasangan untuk dapat dinikahi, untuk dapat berbagi rasa, bermain, dan juga untuk dapat membangun masa depan umat muslim.

Semoga Allah mendatangkan jodoh yang baik agamanya dan akhlaknya dan tentunya secepatnya.
Amiiin.

Selasa, 26 November 2013

Belajar Yukk!!!



Setelah membaca catatan teman bernama Nurdiansyah Lakawa dalam facebook mengenai wirausaha, jadi ada inspirasi buat sebuah tulisan singkat mngenai pendidikan. Pendidikan merupakan hal sangat penting dalam kehidupan, pendidikan membuat seseorang dapat mengembangkan dirinya sebagai manusia. Bahkan Imam Bukhari dalam kitabnya menjelaskan bahwa pengetahuan mengenai ilmu lebih dahulu dari pada amal dan perbuatan. Pendidikan dalam hal ini belajar ibarat membangun sebuah bangunan masa depan karena pendidikan mempunyai peranan pendting dalam membangun peradaban. Menurut Erdogan dalam membangun peradaban dibutuhkan 4 (empat) pilar di dalamnya yaitu : (1) cerdas (2) sehat (3) daya saing tinggi dan yang paling penting (4) taat kepada Allah SWT.

Jepang yang pada perang dunia kedua terkena bom atom bertenaga nuklir dari Amerika Serikat, pemerintahan sesegera mungkin mengeluarkan perintah untuk mendata berapa jumlah guru yang selamat pada waktu itu. Dan fokus penanganan bencana tidak hanya dilakukan dengan penyaluran bantuan berupa kesehatan dan pangan akan tetapi yang utama adalah pendidikan para anak-anak korban bencana.

Sewaktu pergi ke salah satu Bank syariah di kota Palu, sempat ngombrol dengan seserang yang kira-kira usianya 50 tahunan. Dia mengatakan bahwa “dulu torang1 walau hanya tamat sekolah menengah so bisa langsung kerja tapi skarang2 te3 cukup hanya ijazah sekolah, tapi harus kuliah juga”. Pendidikan merupakan syarat mutlak dalam meraih apapun di dunia ini, selayaknya sebagai generasi muda yang merupakan cadangan masa depan dan agen perubahan hendaknya kita sadar dan mau belajar dan bekerja lebih keras dalam meraih pendidikan yang tentunya dalam hal ini memperkaya ilmu untuk kebutuhan pribadi haruslah dapat juga memberikan manfaat bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain dan juga ilmu yang bermanfaat dapat menjadi amalan yang tidak akan terputus sekalipun kita telah meninggal sebagai muslim.

Jangan berhenti untuk belajar dan mengajar!!!!

Keterangan:

  1. Torang : kami
  2. Skarang : sekarang
  3.  Te : tidak.

Senin, 18 November 2013

Hatimu . . .



Orang-orang  pasti pernah merasakan hati yang merasakan kegelisahan dan pikiran tidak fokus. Banyak orang yang berpandangan bahwa inti dari aktivitas kita adalah otak kita, yang mana melalui otaklah semua dikelola kemudian disalurkan ke titik saraf manusia untuk menggerakkan anggota tubuh ini.

Itu memang benar akan tetapi pernahkah kita berpikir bahwa hati adalah inti dari sebuah aktivitas, unsur terpenting dari manusia adalah hati, atau dalam istilah medis kita kenal dengan namanya jantung atau bisa juga didefinisikan sebagai perasaan. Pikiran yang tidak tenang dan rasa yang selalu ada ditiap harinya membuat kita selalu bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada diri ini.

Hal tersebut dirasakan oleh setiap manusia setiap harinya, terkadang jika kita melakukan sesuatu yang baik, perasaan atau hati ini selalu merasakan hal yang luar biasa. Akan tetapi jika yang dilakukan adalah sebuah hal yang meragukan dan tentunya salah, maka secara otomatis hati menjadi gelisah, dan bertanya akan pekerjaan yang telah kita lakukan tersebut. Hati selalu merespon terhadap apa-apa saja yang belum dan telah kita lakukan.

Pentingnya menjaga hati ini agar selalu mengarahkan kita menjadi pribadi yang senantiasa terbaik bagi orang lain karena sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hati juga diidentikkan dengan iman, dan tentunya bahwa bukan hati namanya jika tidak naik dan turun. Naik karena melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan turun ketika melakukan maksiat kepada Allah.
Seperti itulah hati kita, hati manusia, pangkal dari perbuatan adalah hati. Hati sangatlah sensitif terhadap apa yang telah kita lakukan, bahkan jika kita melakukan dosa maka titik hitam akan menyelubungi ahti ini, dan jika ini terus menerus terjadi tentunya hati ini menjadi hitam dan jauh dari cahaya iman, cahaya hidayah. Nau’dzubillah.

Disinilah pentingnya kita menjaga hati ini dari hal-hal dapat merusak. Jika hati kita rusak, berarti diri inipun ikut rusak. Dan berdampak pada aktivitas kita tentunya. Wallahu a’lam.

Beberapa bait lirik dari Snada berjudul  Jagalah Hati.

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Illahi

Bila hati kian bersih
pikiranpun akan jernih
Semangat hidup nan gigih
Prestasi mudah diraih

Namun bila hati keruh
Batin selalu gemuruh
Seakan di kejar musuh
Dengan Allah kian jauh

Bila hati kian suci
tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati
dirimu disegani

Namun bila hati busuk
Pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk
Jadi makhluk terkutuk

Bila hati kian lapang
Hidup sempit terasa senang
Walau kesulitan dagang
Dihadapi dengan tenang

Tapi bila hati sempit
Segalanya jadi rumit
Terasa terus menghimpit
Lahir batin terasa sakit

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Illahi

Sabtu, 09 November 2013

Treveler . . .



Fenomena yang menarik, ketika sebuah perjalanan dikembalikan keniat, seperti kata Yusuf Darmawan, perjalanan yang menempuh waktu yang lama hendaklah membawa sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain, tidak hanya sekedar jalan dan pulang dan hanya sekedar meninggalkan sebuah kenangan akan sebuah momen tanpa manfaat berarti bagi masyarakat. Sekalipun ole-ole atau buah tangan disunnahkan dibawa pulang dari sebuah perjalanan guna diberikan kepada kerabat untuk mempererat tali persaudaran dan cinta. “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari). Olehnya dalam membersamai sebuah aktivitas dalam hal ini adalah perjalanan hendaknya diiringi niat yang baik pula dan ditempuh dengan cara baik pula agar semua mencapai keridhaan Allah.

Berharap bahwa fenomena ini hanyalah dimiliki oleh segelintir bukan semua orang. Melakukan perjalanan memang merupakan hal yang menyenangkan sekaligus membawa kita kedunia baru yang belum kita kenal. Akan tetapi hendaknya ini bukan hanya perjalanan biasa yang hanya sekedar melampiaskan sebuah kesenangan pribadi, hendaknya sedari awal meniatkan dalam perjalanan ini menjadi bagian dari sebuah misi untuk menambah kualitas diri dalam memperkaya khazanah keilmuan kita dalam rangka memberi manfaat kepada orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Membagi pengalaman hasil dari buah kerja keras perjalanan hendaklah dibarengi dengan usaha bagaimana buah dari ini semua dapat dinikmati orang lain melalui kerja nyata. Allah sudah tentu menciptakan bumi dan segala isinya untuk dapat kita nikmati dan tentunya syukuri, bukan dengan cara memperlihatkan kesombongan akibat dari kemampuan kita yang bisa melebihi orang lain ataupun dengan rasa puas telah mengunjungi suatu tempat yang berakhir dengan kesenangan bersifat semu dan berbagi dengan sesama dalam hal ini adalah memberi manfaat kepada yang lain merupakan salah satu bentuk kesyukuran kita kepada Allah.

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS. Al Jaatsiyah: 12)

Wallahu a’lam.

Kamis, 07 November 2013

Remaja itu . . .

Masa depan, masa depan merupakan hal sangat rahasia dan merupakan hal yang begitu misterius bagi manusia. Tidak ada manusia yang dapat memprediksi dengan pasti tentang sebuah kejadian yang akan terjadi nantinya kecuali Nabi dan dan Rasul Allah, itupun atas kehendak Allah. Kualitas dari sebuah masa depan sangatlah ditentukan seberapa baik kita mempersiapkankannya di masa lalu sampai dengan sekarang.

Remaja atau pemuda merupakan harta atau asset yang begitu berharga bagi kehidupan, tidak hanya bagi Negara, agama tapi juga tiap individu yang menua dengan waktu. Para pemuda Indonesia sebagian sudah banyak mengukir prestasi di dunia, olahraga, ilmu pengetahuan, bisnis, dan banyak lagi tentunya. Akan tetapi sebagian yang lain sangatlah jauh dari kualitas generasi pemuda yang akan membawa kebaikan bagi bangsa dan agama ini. Jika melihat kondisi sebagian pemuda sekarang memanglah sangatlah jauh dari idealnya seorang generasi penerus yang akan membawa kebaikan bagi manusia karena banyaknya trend negatif yang tercipta dikalangan para pemuda. Tawuran, narkoba, sex bebas, pembunuhan, dan tindakan kriminal lainnya.

Hal ini tentunya harus menjadi fokus kita dalam membina dan melakukan perubahan kepada mereka tentunya, dan bertanya kenapa hal ini mereka lakukan. Bahkan dalam beberapa siaran berita melalui media cetak ataupun elektronik ada yang membuat video mesum sewaktu jam sekolah usai, tidak hanya itu bahkan tawuran antara pelajar ataupun mahasiswa kerap terjadi layaknya perang antar geng atau mafia-mafia yang kerap kita saksikan difilm.

Para pemuda yang masih berseragam tidak lagi segan mempertontonkan kemesraan di jalan sambil berboncengan ataupun di tempat-tempat umum. Pegangan tangan, pelukan, tinggal serumah dan ciuman sesama lawan jenis yang belum nikah merupakan bukan hal yang tabu lagi yang pantas untuk ditutupi. Apakah seperti ini gambaran bangsa dan umat ini di masa depan, apakah ini sesuai dengan adat kita sebagai bangsa yang menjunjung Pancasila sebagai dasar Negara yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa, yang mana nilai-nilai dalam beragama sangat dijunjung tinggi dalam Negara ini, tentunya setiap agama sangat menolak yang namanya kekerasan dan sesuatu yang memebawa keburukan bagi diri sendiri terutama bagi orang lain. Islam mengajarkan bahwa meninggalkan sesuatu yang membawa dampak buruk bagi kehidupan sangatlah diharuskan.

Kualitas bangsa ini di masa depan tentunya ditentukan oleh ketersediaan stok para remaja dan pemuda yang berkualitas baik juga tentunya.  Arus moderenisasi budaya luar melalui interenet sangatlah tidak dapat terbendung lagi, siapapun, dimanapun dan kapanpun dapat mengakses apa saja melalui internet. Lantas apa yang harus kita lakukan, kemana peran pemerintas sebagai penjaga aset Negara ini. Selayaknya kita patut bertanya kepada diri sendiri apa yang sudah kita lakukan terhadapa para calon pemimpin masa depan ini, berharap kepada pemerintah atau hanya sekedar melakukan kritik tidaklah akan banyak membantu tanpa kita terlibat di dalamnya.

Islam mengajarkan kita bahwa pendidikan pertama bagi anak adalah di rumah. Rumah yang dimaksudkan di sini adalah adanya ayah dan ibu tentunya sebagai guru dalam sebuah keluarga. Membangun pendidikan dalam rumah tidaklah mudah hal ini memerlukan persiapan tidak hanya pada saat menikah bahkan sebelum memilih pasanganpun harus di awali dengan sebuah visi bahwa berkeluarga adalah membangun sebuah peradaban. Sebagai mana Rasul kita Muhammad, mengajarkan kita bahwa dalam memilih pasangan pertama lihatlah, wajahnya dalam hal ini apakah cantik atau tampan, keturunannya yang dimaksud adalah apakah dia seorang yang subur dan bisa mempunyai banyak keturunan, hartanya, dan yang terakhir dan paling utama adalah agamanya

Pemahaman dalam berislam merupakan hal yang paling diutamakan dalam memilih pasangan karena dengan agama yang baik tentunya pemahaman dalam membangun sebuah keluarga yang baik dalam agama dan akhlaknya bisa terwujud. Membangun masa depan Negara tentunya dimulai dari skop terkecil dari sebuah Negara yakni keluarga. Dalam berkeluarga ayah dan ibu harus paham mengenai tugas mereka dalam membangun masa depan.

Anak merupakan aset dari sebuah masa depan, yang akan menjadi pemuda sebagai cadangan masa depan dan pelopor perubahan. Rasulullah berpesan bahwa ada 3 (baca: tiga) amalan yang tidak akan terputus. Pertama adalah amal jariyah, kedua adalah ilmu yang bermanfaat, dan yang terakhir adalah anak yang soleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Amal jariyah, bagi beberapa kalangan yang mempunyai keterbatasan keuangan tentunya ini akan sulit dimaksimal karena ini berhubungan dengan seberapa besar harta yang kita infaqkan di jalan Allah. Yang kedua adalah ilmu yang bermafaat, hal ini erat kaitanya bagainama dengan ilmu yang kita dapatkan mampu member manfaat bagi orang lain, dan yang terakhir adalah anak soleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Ini tentunya kita semua bisa mewujudkannya dengan menjadi orang tua yang baik yang selalu mengarahkan pendidik anak-anak kita dengan pendidikan terbaik.

Anak kita akan menjadi amalan yang tidak akan terputus hingga hari akhir nanti apabila mereka kelak nantinya bertakwa kepada Allah. Olehnya pentingnya bagi kita memahami konsep dalam mendidik anak agar kelak nantinya anak kita akan menajdi orang yang bermanfaat bagi bangsa ini dan bagi umat ini. Sebuah contoh yang ditunjukkan oleh Sultan Murad III yang mana dalam mendidikan calon Sang Penakluk  Konstantinopel yakni Sultan Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II. Sejak kecil sang ayah mulai memndidiknya dengan kedisiplinan yang tinggi dan memepercayakan pendidikan anaknya ke para ulama salah satunya adalah Syeikh Aad Syamsudin, dalam naungan Al Quran dan Sunnah sang anak tumbuh menjadi pribadi yang luat biasa bahkan umur 14 tahun sudah menjadi gubernur disebuah wilayah dibawah kesultanan ayahnya yakni Sultan Murad III.

Yupss, seperti itulah membangun masa depan, dimulai dari lingkungan keluarga. Kematangan dibentuk disana dari sisi fisik dan mental. Oleh setiap keluarga haruslah paham akan hal ini, tanggungjawab orang tua dalam membangun masa depan bangsa dan umat begitu besar, olehnya persiapkan menuju kesana harus dilakukan sedini mungkin. Selain peran keluarga, peran akif masyarakat tidak kalah penting dalam membangun bangunan masa depan ini, dewasa ini banyak lembaga sosial kemasyarakatan yang fokus dalam pembinaan remaja atau konseling remaja. Semisal MYClub ( Muslim Youth Club), merupakan lembaga pembinaan remaja muslim di kota Palu yang fokus kegiatannya adalah pembinaan karakter pelajar muslim di kota Palu.

Hal inilah yang harus kita tinggkatkan peran keluarga dan masyarakat dalam membina umat sangatlah diperlukan dalam membangun sebuah negera yang madani yang tidak hanya sekedar mimpi. Teringat akan kisah Luqman yang mengajarkan anaknya yang ditorehkan dalam Al Quran surah Luqman ayat 13 – 19.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Q.S. Luqman : 13)
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman : 14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman : 15)
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus, lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Luqman : 16)
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman : 17)
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman : 18)
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Q.S. Luqman : 19)

Wallahua’lam