Selasa, 27 Desember 2011

Membuat Hidup Lebih Hidup



Kehidupan memang butuh pemaknaan yang baik untuk menyikapi bagaimana hidup yang lebih baik itu. Terkadang kita bertanya-tanya untuk apa sebenarnya aktivitas yang kita lakukan selama ini. Kuliah, ikut organisasi, lulus kuliah, cari kerja ataupun membuka usaha, menikah, punya anak, dan pada akhirnya semua akan menua seiring waktu yang telah berjalan.

Kadang kita merasa bahwa kehidupan begitu terasa sangat menyenangkan disaat kita memperoleh sesuatu yang membuat hati ini menjadi senang, ketika kita memperoleh apa yang kita inginkan. Tentunya sebagai manusia memang perasaan senang dan bahagia akan tampak. Akan tetapi bagaimana sikap kita ketika kita menghadapi masa-masa sulit, Bagaimana sikap dan perasaan kita ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan angan-angan kita. Ataupun bagaimana ketika kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi dan kita cintai.

Tentunya jika ditanya secara pribadi saya dan bahkan kita semua akan merasa sedih dan mungkin saja dalam kesedihannya ada yang sampai menangis bercucuran air mata. Tak ayal bahkan dalam kesedihan dan sikap ketidakterimaan ini ada yang sampai berkata-kata yang sungguh sangat tidak menyenangkan dan menyalahkan yang lainnya ataupun diri sendiri. Bahkan kadang ada yang langsung mengupdate status di FB (Facebook) ataupun Twitter. Melalui itu semua mereka meluapkan kesedihan dan kekesalan dalam kolom kecil untuk berkata-kata demi mencurahkan isi hati.

Dari permasalahan diatas memang sudah menjadi fenomena umum bahwa setiap manusia akan dan tentunya pernah merasakan hal demikian. Akan tetapi sungguh sangat baik dan bijak ketika kita mampu mengolah kesedihan menjadi sebuah ketegaran dan kebahagian menjadi kebahagiaan orang lain juga. Menjadikan kesedihan menjadi sebuah ketegaran memang terasa sangatlah berat akan tetapi ketika kita mendapatkan sesuatu yang dapat membuat kita sedih marilah kita memuhasabahi diri ini tentang hal-hal yang terjadi pada kita. Semua yang terjadi pada kita sudah merupakan ketetapan ALLAH SWT akan tetapi tinggal kitalah bagaimana memaknai kehidupan ini selayaknya muslim sejati.

Kita perlu ingat ALLAH SWT tidak akan memberikan perkara yang melebihi keampuan hamba-hampanya. ALLAH SWT sudah menetapkan porsi sesuai dengan kemampuan kita. Kita haruslah yakin bahwa sesuatu yang telah pergi meninggalkan kita ataupun sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita itu adalah yang terbaik bagi kita dan tentunya menghadapinya dengan kesabaran. Lantas bagaimana kita menyikapi ketika kita merasakan kebahagiaan atau kesenangan. Hal yang terbaik adalah ketika kita merasakan itu adalah dengan cara mengucapkan syukur (alhamdulillah) tentunya dan alangkah lebih baiknya jika kita dapat membagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Karena hidup kita diperuntukan untuk membahagiakan orang lain. Setelah itu biarkanlah ALLAH SWT membahagiakan kita dengan caranya.

Olehnya maknailah kehidupan kita dengan menanamkan dalam benak kita bahwa kehidupan bagi setiap muslim adalah sebuah ladang untuk melakukan hal-hal yang baik karena dengan begitu apapun yang terjadi pada diri kita semua adalah yang terbaik dan tentunya adalah untuk kebaikan bagi kita terlebih lagi untuk orang lain.

TO BE THE WINNER BY YOUR HEART



Diluar engkau tampak begitu tegar, begitu anggun,
dan begitu sangat teduh bagi orang-orang yang mengenalmu.
Yang ku tahu selama ini engkau sejatinya lebih kuat dari Superman (serial pahlawan dalam komik) dan lebih tegar dari pada batu karang.

Namun ternyata engkau juga sama seperti kita.
Engkau juga sama seperti orang-orang pada umumnya.
Yang kadang terbesit rasa takut akan menghadapi sesuatu,
terlebih lagi itu sesuatu yang besar.

Namun ku yakin dan percaya dalam ketakutan, kecemasan
dan keraguanmu itu, pasti terbesit rasa optimisme yang begitu besar.
Yang bahkan lebih besar daripada Gunung Everest.

Untukmu yang selalu dalam dekapan cintaNYA..
Taklukkanlah rasa takutmu bakarlah rasa cemas dan keraguan yang ada dalam dadamu.
Karena dengan begitu engkau akan tahu bahwa engkau dapat melakukan apapun
dan kapanpun ketika engkau percaya pada dirimu karena ALLAH selalu bersamamu.

Minggu, 06 Februari 2011

Mengapa harus berbasis syariah?


“Mengapa sih kita harus pilih yang syariah?” Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang saya lontarkan kepada beberapa teman-teman saya. Jawabannyapun beragam tapi pada intinya karena produk syariah itu lebih baik karena terjamin dan lebih di ridoi oleh ALLAH SWT. Bahkan ada teman saya yang menyangkut pautkannya dengan makanan yang katanya kalau berbasis syariah itu lebih terjamin halalnya apa lagi jika ada label halalnya.

Nah kita kembali ketopik kita yakni ekonomi syariah dan tema kali ini yaitu “mengapa harus yang berbasis syariah?”. Fungsi dari syariah di sini berfungsi bahwa aturan yang digunakan tentu saja aturan yang berbasis dari Al Quran dan hadist. Pada dasarnya prinsip yang digunakan dalam ekonomi syariah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau umat karena dalam hal penerapan kerja dalam sistem syariah tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi atau ditunda-tunda terutama dalam hal transaksi.

Perlu kita ketahui bersama bahwa perekonomian syariah tidaklah terbatas hanya masalah perbankan syariah saja. Akan tetapi perekonomian yang berbasis syariah sendiri lebih luas lagi cakupannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri sudah banyaknya bank-bank yang berbasis syariah ataupun lembaga-lembaga keuangan simpan pinjam lainnya yang membuka unit usaha syariah dalam hal menjalankan operasinya. Dalam ekonomi syariah pengertian paling sederhana adalah tidak diterapkannya bunga dalam konsep ini karena bunga bersifat riba dan itu sama artinya dengan diharamkan serta tidak diperbolehkan dalam syariat islam.

Mari kita simak arti ayat-ayat Al Quran di bawah ini…

Al Baqarah ayat 275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Al Baqarah ayat 276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
Al Baqarah ayat 278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Al Baqarah ayat 279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Pengertian sederhana tentang riba yang berkembang sekarang ini adalah bunga pinjaman. Larangan tersebut jelas ditujukan bagi orang yang meminjamkan uang, tanpa perduli apakah yang dipinjami itu menggunakan uangnya untuk pekerjaan yang menguntungkan sehingga uang menjadi berlipat, atau hanya menggunakannya karena terjepit kebutuhan, atau akhirnya gagal mengeruk keuntungan. Mungkin hal inilah yang paling sederhana menjelaskan tentang riba.

 Karena konsepnya yang sangat dekat dengan riba hasil bunga pinjaman, orang selalu mengindentikkan perekonomian syariah dengan perbankan syariah. Tetapi di zaman modern ini, ekonom syariah memperluasnya menjadi suatu pemahaman di mana suatu hubungan kerja sama ekonomi, harus berdasarkan pemahaman untuk saling menguntungkan. Dan tidak mengambil apa yang lebih dari haknya, harus sesuai akidah agama, tidak memikirkan diri sendiri, dan sebagainya. Dalam bahasa singkat, riba di sini diperluas artinya menjadi apa yang lebih dari hak keuntungannya. (indonesia.faithfreedom.org).

Zaman sekarang ini pemahaman akan riba dalam perekonomian di sini tidaklah hanya sekedar bunga dalam bentuk simpan pinjam atau bahkan dalam hal pemberian kredit. Kita contohkan terdapat beberapa orang yang ingin membangun sebuah usaha dan berniat menanamkan modal dalam usaha tersebut. Nah, Di dunia umum, yang lebih kuat, tentu akan minta porsi bagi hasil lebih daripada yang lebih lemah. Dalam kasus ini ketika terjadi perjanjian bisnis, siapa menguntungkan siapa, tidak pernah bisa ditarik garis yang jelas bahkan ketika perjanjian ditandatangani. Seorang pemodal yang punya dana ketika bertemu dengan seorang kontraktor yang mempunyai kemampuan mengerjakan sebuah usaha, porsi bagi hasilnya sangat ditentukan dari siapa butuh siapa.

Hal inilah yang tidak diperbolehkan dalam ekonomi berbasis syariah yang mana bahwa bargain power (kemampuan tawar menawar) haruslah dikesampingkan, bagi hasil harus berasaskan keadilan. Keadilan yang dimaksud di sini ialah tidak ada pihak yang merasa di rugikan dan tanpa ada paksaan.

Konsep sistem bagi hasil sendiri merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebut diperjanjikan adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih. Bagi hasil dalam sistem perbankan syari’ah merupakan ciri khusus yang ditawarkan kapada masyarakat, dan di dalam aturan syari’ah yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha harus ditentukan terlebih dahulu pada awal terjadinya kontrak (akad). Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan (An-Tarodhin) di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan.

Maka dari itu konsep ekonomi syariah tentu saja sangatlah luas cakupannya dan tentu saja merupakan solusi yang baik bagi orang-orang yang selama ini merasa tertindas karena ketiakadilan ekonomi. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bisakah ekonomi syariah di terapkan dalam era sekarang ini? Yakni era dimana keuntungan untuk memperkaya diri sendiri (keserakahan) lebih perperan ketimbang bagaimana supaya keadilan lebih diutamakan untuk kebaikan bersama.
Yang bisa menjawab semua ini hanyalah diri kita sendiri ketika keserakahan masih ada dalam hati setiap manusia maka hal ini tidak akan bisa terwujud karena Allah SWT sangat memberi keleluasaan pada manusia untuk melakukan perubahan. Dan ekonomi syariah lebih khusus lagi perbankan syariah akan jauh dari ideal jika kita belum mau bergerak untuk menabung atau melakukan aktivitas di seektor ini. Allah SWT berfirman :” Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Qs: Ar-Ra’d: 11).

*Diambil dari berbagai sumber