Jumat, 06 Desember 2013

Hari AIDS Sedunia



Tepat tanggal 1 Desember 2013 diperingati sebagai hari AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) sedunia untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Adapun hari AIDS sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.

Pada tanggal tersebut seluruh dunia mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingatinya di Sydney, Australia peringatan dimeriahkan dengan kembang api di Opera House, di Seoul, Korea Selatan peringatan dilakukan oleh anak SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan membuat sebuah barisan yang membentuk simpul pita sebagai simbol dari hari tersebut, di Yangon, Myanmar beberapa relawan meakukan aksi simpatik dengan bermain bersama anak-anak penderita AIDS, di Kathmandu, Nepal masyarakat membagi-bagikan pita merah berbentuk simpul. Sedangkan di Indonesia sendiri pemerintah melakukan aksi “simpatik” dengan sosialisasi kondom kemasyarakat dengan cara membagikan kondom gratis kemasyarakat umum dengan tujuan agar supaya masyarakat dapat mencegah penularan penyakit ini dengan menggunakan kondom dan bahkan dalam bentuk sosialisasi ini tersedia pula bus operasional yang sudah dibranding dengan nama “Pekan Kondom Nasional”. Pekan Kondom Nasional ini bertujuan untuk memperingati Hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.

Inilah yang menjadi penolakan dari berbagai pihak, para aktivis pemuda, pemuka agama dan lembaga sosial kemasyarakatan pun menolak aksi yang dicanangkan oleh pemerintah ini melalui Kementrian Kesehatan (KEMENKES). Penolakan ini terjadi karena menurut mereka pembagian kondom yang dilakukan oleh pihak pelaksana merupakan bentuk legalitas dukungan terhadap seks bebas di Indonesia. Pembagian kondiom gratis juga dinilai tidak tepat sasaran karena dilakukan ditempat umum seperti dijalan-jalan dan ditempat umum lainnya. Semisal di Jakarta pembagian kondom ini dilakukan di seputaran bundaran Hotel Indonesia (HI). Beberapa organisasi yang menolak adanya Pekan Kondom Nasional ini adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Hitsbut Tahrir Indonesia (HTI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Penolakan juga mengalir dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yakni dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam hal ini Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Melalui ketua FPKS Hidayat Nur Wahid menolak adanya program dari KEMENKES tersebut dan meminta kepada Menteri Kesehatan dalam hal ini Nafsiah Mboi untuk menghentikan hal terseeut karena dinilai tidak tepat sasaran dan tentunya pendekatan edukasi lebih harus diutamakan keberbagai masyarakat ketimbang edukasi yang berbentuk pembagian kondom gratis keberbagai masyarakat umum.

Akan tetapi beberapa masyarakat menilai jika ingin melakukan pembagian kondom hendaknya dilakukan edukasi terlebih dahulu dalam penggunaannya dan sasaran lebih diutamakan ditempat-tempat prostitusi yang memang merupakan sarang terbesar penyebaran penyakit AIDS. Adapun dengan kalangan pelajar dan masyarakat umum lainnya edukasi yang bersifat penanaman nilai moral harus lebih intensif dan tidak bersifat seremonial belaka. Pendidikan seks usia dini dan pendidikan tentang pentingnya menjaga kesehatan diri dan orang lain haruslah dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat tidak hanya pemerintah tingkat pusat, dikalangan RTpun haruslah ada pendidikan semacam ini bahkan juga sampai elemen terkecil masyarakat yakni keluarga. Pendidikan setingkat ini dapat dilakukan organisasi kepemudaan semisal Karang Taruna ataupun di majelis-majelis ta’lim yang terbentuk dimasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar