Tepat tanggal 1 Desember 2013 diperingati
sebagai hari AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) sedunia untuk menumbuhkan kesadaran
terhadap wabah
AIDS
di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
AIDS adalah sekumpulan gejala
dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem
kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV
(Human Immunodeficiency Virus).
Adapun hari AIDS sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh
James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program
AIDS Global di Organisasi
Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.
Pada tanggal tersebut seluruh dunia
mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingatinya di Sydney, Australia
peringatan dimeriahkan dengan kembang api di Opera House, di Seoul, Korea
Selatan peringatan dilakukan oleh anak SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan membuat
sebuah barisan yang membentuk simpul pita sebagai simbol dari hari tersebut, di
Yangon, Myanmar beberapa relawan meakukan aksi simpatik dengan bermain bersama
anak-anak penderita AIDS, di Kathmandu, Nepal masyarakat membagi-bagikan pita
merah berbentuk simpul. Sedangkan di Indonesia sendiri pemerintah melakukan
aksi “simpatik” dengan sosialisasi kondom kemasyarakat dengan cara membagikan
kondom gratis kemasyarakat umum dengan tujuan agar supaya masyarakat dapat
mencegah penularan penyakit ini dengan menggunakan kondom dan bahkan dalam
bentuk sosialisasi ini tersedia pula bus operasional yang sudah dibranding
dengan nama “Pekan Kondom Nasional”. Pekan Kondom Nasional ini bertujuan untuk
memperingati Hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.
Inilah yang menjadi penolakan dari berbagai
pihak, para aktivis pemuda, pemuka agama dan lembaga sosial kemasyarakatan pun
menolak aksi yang dicanangkan oleh pemerintah ini melalui Kementrian Kesehatan
(KEMENKES). Penolakan ini terjadi karena menurut mereka pembagian kondom yang
dilakukan oleh pihak pelaksana merupakan bentuk legalitas dukungan terhadap
seks bebas di Indonesia. Pembagian kondiom gratis juga dinilai tidak tepat
sasaran karena dilakukan ditempat umum seperti dijalan-jalan dan ditempat umum lainnya.
Semisal di Jakarta pembagian kondom ini dilakukan di seputaran bundaran Hotel
Indonesia (HI). Beberapa organisasi yang menolak adanya Pekan Kondom Nasional
ini adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Hitsbut Tahrir Indonesia (HTI),
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan dari Forum Silaturahim
Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Penolakan juga mengalir dari anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yakni dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) dalam hal ini Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Melalui ketua
FPKS Hidayat Nur Wahid menolak adanya program dari KEMENKES tersebut dan meminta
kepada Menteri Kesehatan dalam hal ini Nafsiah Mboi untuk menghentikan hal terseeut
karena dinilai tidak tepat sasaran dan tentunya pendekatan edukasi lebih harus
diutamakan keberbagai masyarakat ketimbang edukasi yang berbentuk pembagian
kondom gratis keberbagai masyarakat umum.
Akan tetapi beberapa masyarakat menilai jika
ingin melakukan pembagian kondom hendaknya dilakukan edukasi terlebih dahulu dalam
penggunaannya dan sasaran lebih diutamakan ditempat-tempat prostitusi yang memang
merupakan sarang terbesar penyebaran penyakit AIDS. Adapun dengan kalangan
pelajar dan masyarakat umum lainnya edukasi yang bersifat penanaman nilai moral
harus lebih intensif dan tidak bersifat seremonial belaka. Pendidikan seks usia
dini dan pendidikan tentang pentingnya menjaga kesehatan diri dan orang lain
haruslah dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat tidak hanya pemerintah
tingkat pusat, dikalangan RTpun haruslah ada pendidikan semacam ini bahkan juga
sampai elemen terkecil masyarakat yakni keluarga. Pendidikan setingkat ini
dapat dilakukan organisasi kepemudaan semisal Karang Taruna ataupun di majelis-majelis
ta’lim yang terbentuk dimasyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar